Nasionalisme Pribadi

Untuk diri pribadi, saya tidak ambil pusing dengan nasionalisme seperti apa. Saya tinggal di sini dan mau tinggal nyaman dengan teman-teman saya. Saya mendukung aksi pemberantasan hal-hal yang membuat tidak nyaman asalkan dilakukan dengan cara yang benar.

Hanya dengan teman-teman? Bagaimana yang bukan teman? Yuk berteman 🙂

Berita dari media hanya sumber referensi karena rawan framing. Bukan karena afiliasi media, tapi karena terbatasnya tempat dan kata untuk mendeskripsikan kejadian tidak bisa dihindari. Melalui video pun sama, hanya bisa sepenggal tanpa tahu bagaimana keseluruhannya. Intinya kalau lihat berita, seringnya cuma berkata “ooo” atau mendoakan.

Bapak

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ دَارَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ، وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لَاحِقُونَ
““Keselamatan untuk kalian, wahai penghuni rumah kaum mukiminin, dan kami insya Allah akan menyusul kalian.

(HR. Muslim)

Bapakku bukan orang yang pernah saya panggil bapak, seingat saya. Heroisme seorang bapak di cerita-cerita klasik maupun dari teman-teman tidak pernah saya rasakan, sejauh ini. Kabarnya saja sangat jarang terdengar. Kebingungan di masa kecil telah terkubur waktu dan tertutup hati yang mengeras.

Sakit hati? Bukan. Apalagi dendam. Rasanya hanya datar. Biasa saja, sejauh ini.

Mungkin, sangat mungkin, seharusnya saya bersusah payah proaktif menjalin kedekatan yang umum, atau bahkan yang ideal. Menanyakan kabar. Menjenguk. Bercerita. Mengagumi cerita-cerita masa lalunya. Mengerjakan suatu hal bersama-sama.

Kini takdir itu telah terlewati, dan ia terlebih dahulu selesai bertugas di dunia. Dan saya akan menyusulnya. Pasti menyusulnya. Semoga persahabatan kami bisa terjalin di surga kelak, bersama keluarga yang lebih lengkap dan lebih besar.

N.B: indahnya doa-doa Islam itu, jika dihayati, rasanya semua keluhan terangkat dan kerumitan pikiran menjadi hilang.

Maaf Saya Hanya Orang Awam

Untuk kesekian kalinya, kawanku memintaku menunjukkan dalil atas amalan yang kulakukan. Jujur saja saya tidak tahu. Kalaupun tahu, saya tidak tahu kesahihannya. Saya hanya ikut ustaz saja. Saya yakin ustaz itu bisa diikuti. Ustaz yang mengikuti gurunya hingga berujung pada pemahaman ulama terdahulu dalam mengikuti nabi junjungan saya. Rantai keilmuan ustaz yang bisa dipercaya lebih meyakinkanku dan mempermudahku. Dan setahu saya rantai keilmuan itu tidak sekadar tersambung, tapi juga terjaga kualitasnya.

Saya tidak bisa langsung kembali ke Al-Qur’an dan hanya melakukan Sunnah yang sahih, karena saya bukan hanya tidak hafal semua, tetapi dalil yang saya pakai pun tidak bisa saya telusuri sendiri kesahihannya. Dan saya percaya dalam banyak hal tentang agama dengan ustaz saya. Mungkin sama halnya dirimu yang percaya bahwa ustazmu benar-benar tahu, paham, dan hafal semua ayat Al-Qur’an dan hadis dengan segala tafsir dan ilmu penyokong lainnya sehingga semua pemahamannya pasti sesuai tuntunan nabi.

Kau yang selalu mengklaim kalimat ajakan “kembali ke Al-Qur’an dan Sunnah yang sahih dengan pemahaman salaful ummah” pun pada akhirnya bergantung dengan pemahaman ustazmu dengan segala kekurangan dan kelebihan pengetahuannya. Karena kalimat ajakan tersebut seharusnya menuntut setiap dari kita harus mendedikasikan diri untuk menelaah dan menelusuri setiap dalil yang akan dijadikan landasan amal ibadah kita. Toh kau tidak begitu kan? Jadi di titik ini kita sebenarnya sama. Kita bergantung pada ustaz kita.

Jadi para teroris, ekstrimis, atau liberalis itu sebenarnya tidak salah dong? Mereka kan hanya mengikuti ustaz mereka. Cara menuntut ilmu yg terlalu percaya orang berbahaya bung, rawan penyesatan!
Untuk kasus penilaian orang per orang, Allah yang Mahatahu. Komentarmu benar, tapi berlaku juga untuk semua metode. Selalu meragukan orang lain bisa tersesat karena kesombongan atau malah mendirikan paham yang baru karena pengetahuan yang terbatas.

Sekali lagi, mohon maaf saya hanya orang awam. Saya tidak bangga dan malu dengan status ini, tapi memang benar bahwa pengetahuan saya terbatas. Lebih tipis dari oxide insulation pada sebuah gate transistor.

 

5 Bulan Lalu

5 bulan lalu kau berkata tentang rencanamu setelah 2-3 tahun ke depan

Saat ini kau bercerita tentang rencana yang sama setelah 2-3 tahun ke depan

Ke mana kah 5 bulan ini berlalu?

Semoga 2-3 tahun lagi rencana yang sama tidak lagi direncanakan untuk 2-3 tahun setelahnya

(Inspired by obrolan malam dgn Ajang)

Peace

One of memorable moments in Batam is my solo trip to 6th Barelang Bridge. I didn’t plan it before. On the afternoon, instead of turn left to my office, I went straightforward to another island near Batam.

I rode my bike till 8.00 p.m. It was on the 4th bridge. Not having enough preparation, I felt very tired. I stopped. The road was very dark and my lamp was hardly visible, but I still can see my surrounding. Soothing wind blew towards me. Slowly, I could felt my heartbeat. Sounds of leaves rubbed each other calming my breath. Then I cried.

Still standing on the roadside, I accepted my weaknesses, my fears, and my confusions. All of those miseries felt like moving out from my eyes. All of my bad thought stopped to appear in front of this lonely man. All of my struggle so far felt insignificant on this solitude. If that is a form of death, I was astounded on how it came. This dust will back to dust peacefully.

Then I chose to pedal again, with another form of additional energy. Acceptance. Peace.

Halus

 

Makhluk halus yang butuh diwaspadai adalah bisikan-bisikan kemaksiatan yang sangat halus.

Ia bisa berwujud penundaan. 1 menit, 5 menit, menggenapkan 30 menit, dan tiba-tiba waktu sudah terbuang. Ujungnya bisa kehabisan waktu atau hilangnya semangat.

Ia bisa berwujud kemalasan. Dari sekadar malas senyum, kebencian bisa tertanam di hati orang yang menemuinya. Dari sekadar malas lapor, kecurigaan bisa tersebar.

Kata orang Barat, devil is on the details. Perlahan tapi pasti setan menjerumuskan kita. Jangan sampai baru menyadari jauhnya kita tersesat ketika kematian sudah di hadapan.

Apalagi wujudnya? Yuk berkaca 🙂

Random Writing During Working Hour

Jika kita tidak berubah, mustahil muncul kemajuan.
Jika tidak ada kemajuan, yang terjadi bukan hanya stagnansi tapi juga ketertinggalan.
Jika perubahan terjadi ke arah yang salah, stagnansi dan ketertinggalan juga akan membayangi

Arah perubahan benar-salahnya bisa jadi karena niat awal atau eksekusi yang salah.
Bisa karena kesengajaan maupun ketidaksengajaan.

Kemajuan pun bisa jadi berkah bisa pula jadi musibah. Tergantung di pihak mana kita berada.

Jika sudah memahami posisi orang lain, lebih mudah bagi kita untuk memaafkan. Bahkan rasanya susah untuk marah jika tahu mereka pun cuma aktor yang mampir lewat di kehidupan kita. Tapi tanpa adanya rasa marah, tidak ada rasa kepemilikan.

Waktu pun terbatas. Satu kita kerjakan, yang lain kita tunda. Ini semua tentang prioritas.

Apakah hidup berarti melakukan sesuatu sekonsisten mungkin dengan atau tanpa motivasi? Toh hati ini ada yang membolak-balik. Secara biologis pun suasana hati kita cuma perkara hormon.

Iri rasanya melihat kawan yang memilih untuk tumbuh dengan arahan ulama..

Mengulang

Begitu banyak yang mendambakan kesempatan kedua, dengan tekad tidak akan mengulangi kesalahan.

Begitu banyak yang menghindari hal-hal yang berulang, dengan alasan kejenuhan.

Begitu banyak pula yang mau tidak mau harus mengulangi apa yang telah dia lakukan, dengan harapan ia akan menguasai bidang itu.

Entahlah kali ini masuk ke kategori apa saya akan mengulang. Ingin rasanya kembali menjalin kedekatan dengan Tuhan. Bukan. Bukan berarti saya ingin mengulangi kegelapan masa silam.

Mengulangi keindahan dan ketenangan jiwa ketika berdoa, dengan harapan menerangi kehidupan masa depan 🙂

Nasihat Pak Guru

Memanusiakan manusia. Sering kita mendengar nasihat itu. Lebih tepatnya ketika SMA saya sering ditegur dengan nasihat yang cukup membingungkan itu. Kali ini pemahaman saya lebih terbuka sedikit.

Memanusiakan manusia bukan sekedar bersikap baik kepada orang lain sebagaimana kita ingin disikapi. Tidak cukup pula hanya memberi perhatian pada kawan baik saat kita butuh dia atau pun tidak. Namun juga tidak menghakimi walapun hanya dalam hati, memberi pemakluman dan mencoba memahami kesalahannya, serta menghormatinya baik ia di hadapan kita atau tidak.

Memanusiakan manusia sejak dalam hati, artinya tidak menganggap diri kita lebih unggul daripada orang lain. Di mata Allah, semua sama. Perintah-Nya adalah agar kita berlomba-lomba dalam kebaikan. Bagaimana mungkin kita bisa berlomba dengan baik jika kita selalu merasa menang?

Menakutkan jika kebaikan yang kita unggulkan dalam hati ternyata hanya delusi. Pembenaran-pembenaran atas keangkuhan kita akan luluh lantak.

Keramahanmu, kedermawananmu, kerendahhatianmu, dan kisah kepahlawananmu ternyata hanya di kepalamu. Lingkungan kita enggan menegur, mungkin karena mereka takut dengan wajah asli kita. Wajah yang sesungguhnya.

Sungguh menakutkan jika kesadaran ini baru muncul di akhir hayat..

They said, working hard without love is madness. It is a kind of frustration.

I just feel the urge to work hard. To make me feel that I have progress. Stopping just makes me more mad..