Prime Time For Learning

That’a what his former lecturer said to him yesterday. He didn’t deny it at all. Most of his discussion with his friends came into this conclusion.

But it has another side. It drag us into another problem: it became a burden instead of motivation. Feeling of left behind arose. It made him compare himself with another human being. Not necessary his friend, but with more successful stranger in the different side on earth. Sometimes he compare his achievement and his dream against what another countries or companies done.

What is the solution? Keep learning and enjoy the process

Advertisements

Hutang Belajar Mengenai Kartu NFC

<masih dalam rangka membiasakan menceritakan diri dalam sudut pandang orang ketiga>

Pemuda 25 tahun itu hari ini sempat bernafas lega. Rencana awal untuk mengajar mengenai peralatan laboratorium elektronika dasar entah kenapa tidak jadi terlaksana. Dari pihak kementrian tidak ada yang menghubunginya hingga sore tiba dan ia langsung pamit setelah itu. Ia tidak pula menerima tagihan uang tips untuk biaya kebersihan mes.

Pada hari itu ia melanjutkan penelitiannya mengenai medan listrik pada NFC card reader dan hubungannya dengan tegangan serta jumlah arus maksimal yang dapat ditarik. Awalnya penelitian itu hanya sederhana, hanya membandingkan medan listrik masing-masing reader dan performanya. Namun tidak ada linearitas yang terjadi sehingga ia harus belajar lebih banyak lagi mengenai itu. Hutang belajar #1: medan listrik, hubungan antara besaran yang dinyatakan dalam satuan A/m dengan besar tegangan dan arus maksimal yang dapat ditarik.

Proyek besar dalam eksperimen itu adalah pengetesan NFC card secara umum. Fungsionalitas adalah parameter utama keberhasilan desain produk ini. Karena belum sepenuhnya dapat berfungsi, semua fungsionalitas harus dijabarkan sedemikian rupa sehingga analisis dapat lebih tajam dan akurat. Ada salah satu hal yang saya masih penasaran dan membutuhkan pemahaman ulang mengenai penurunan Finite Fourier Transformation dan hubungan antara redaman di domain frekuensi dengan amplitudo tegangan di domain waktu. Itulah hutang belajar #2.

Hutang belajar #3 adalah belajar memakai R. Platform pengolahan data yang sekilas mirip MATLAB itu rasanya akan sangat berguna dalam mengolah data-data pengetesan. Karena pengetesan sendiri belum berjalan, prioritas pemakaian R itu sendiri masih rendah dibandingkan dengan hutang #1 dan #2. Akan menarik rasanya jika pemuda 25 tahun itu dapat mentransfer keahlian menggunakan MATLAB ke dalam R. R adalah platform yang gratis sehingga jika dia lanjut kuliah atau bekerja di ranah yang sangat ketat akan legalitas perangkat lunak, R akan menjadi perangkat yang sangat berguna baginya.

Hutang belajar #4 adalah belajar mengenai rangkaian analog. Seharusnya sudah di luar kepala saat ini. Apa daya, masih ada banyak kesibukan yang mengiringi aktivitasnya. Terlebih dia dulu pernah diamuk oleh dosen mata kuliah Elektronika.

Talk to Self in Third Person

Inov told me that it will bring many benefit, 12/16 my Instagram friend also recommend it. It’s very funny to think of it at first. I’ll narate my own story!

Let me start just after this sentence.

So, here it is, a young man of 25 years old sitting in the front of his laptop, writing on his blog while try to figure out what happened in his measurement yesterday. No significant progress felt. Meanwhile, at this morning he will teach Pusdatin Kemenhan’s officer about basic knowledge on how to use oscilloscope and another basic electronics laboratory tools. He still don’t have idea what to tell them. That’s why he felt hard to sleep.

Lol. He felt funny writing this and it make him less worry about tomorrow. Life is a joke, sometimes. And by write his own story, he can realize it more often.

Ten Commandments for Aspiring Superforecaster

  1. Triage – assign degrees of urgency to (wounded or ill patients).
  2. Break seemingly intractable problems into tractable sub-problems
  3. Strike the right balance between inside and outside views
  4. Strike the right balance between under- and overreacting to evidence
  5. Look for clashing causal forces at work in each problem
  6. Strive to distinguish as many degrees of doubt as the problem permits but no more
  7. Strike the right balance between under- and overconfidence, between prudence and decisiveness
  8. Look for the errors behind your mistakes but beware of rearview-mirror hindsight biases
  9. Bring out the best in others and let others bring out the best in you
  10. Master the error-balancing bicycle
  11. Don’t treat commandments as commandments

Yes. This one is not a review. But it is the last part of the book Superforecaster. I got bored after several pages, then skim into the last chapter, and my eyes caught “bicycle” word in it. So I try to re-read it again, but it will be started from the last chapter which is like the summary of this book.

Why I read this book in the first place? I want to learn about superforecasting ability. My knowledge about statistic and probability isn’t enough and my understanding is shallow.

Like all other known form of expertise, superforcasting is the product of deep, deliberative practice

Ketua Kelas

Sebenarnya karir ketua kelas saya sempat terhenti bertahun-tahun. Langganan menjadi public enemy di SD, di SMP saya hanya satu kali menjabat. Bahkan saat SMA, saya selalu hanya menjadi wakil ketua kelas. Tahun pertama kuliah, saya menang pemilu setelah sebelumnya kalah tiga tahun berturut-turut. Kejadian itu memacu takdir saya untuk semakin sering menjadi ketua kelas.

Ketua kelas itu berarti pasang muka anak baik-baik di depan guru, mendengarkan keluhan wali kelas atas kenakalan teman-teman yg sebenarnya saya juga terlibat, menerima kenyataan si sekretaris tiba-tiba pundung dan tidak mau lagi membantumu, menjadi tameng bagi si bendahara yg diomeli teman yg butuh waktu untuk melunasi tagihan, dikorbankan kelas untuk memulai ucapan maaf ke guru yang emosi, dan berbagai penderitaan lainnya.

Di buku Sapiens, Yuval Noah Harari menyatakan bahwa manusia dapat bergerak terorganisir tanpa adanya pemimpin hingga mereka berjumlah 150 orang. Hey, kelas normal di Indonesia kan cuma 50-an murid jumlahnya! Kenapa harus ada ketua kelas?

Bagaimanapun juga, menjadi ketua kelas menjadi sebuah tempaan tersendiri. Berbeda dengan ketua organisasi lain yang berkumpul berdasarkan minat, ketua kelas memimpin orang-orang yang berkumpul karena nasib. Bergerak di luar zona nyaman hanya karena orang lain membutuhkan, menjadi penengah, membuat keputusan penentu nasib walaupun kita sendiri bingung, hingga belajar berpolitik untuk memuaskan guru dan kelas. Hal-hal tersebut terejawentahkan dalam kebijakan dan aksi yang nyata, karena guru dan kelas tidak akan tersihir dengan jargon mimpi. Mereka ingin kebutuhannya terpenuhi dan keinginannya terfasilitasi.

Tidak menarik ya cerita saya? Wajar saja, kamu belum bayar uang buku, apalagi uang kas. Jangan lupa nanti piket dulu sebelum pulang. Awas kalau sampai bikin gaduh, saya catat!

How Will You Measure Your Life?

Great book about our life planning written by Clayton Christensen. This was recommended by Hylda which got recommendation from Rosyid. Harvard Business Review also give high praise. I’ll write some memorable point from this book. I wrote these after my first time reading and without looking back at the book:

  1. On finding career that you love: be realistic and honest with what you need. Which one satisfy you most and which one doesn’t make you happy. Then, make realistic strategy from it, don’t afraid to make change if it is needed. Make sure the change is well analyzed so it won’t ruin your life.
  2. On balancing life: put priorities in family and really put an effort to spend time with them, even it’s not the time when we need them most.
  3. On life strategy: make sure our resource (time, stamina, and mind) was prioritized to make it happen. Balance the way we do our plan while looking for every good alternative chance.

Asem. I can’t believe it is hard to explain it in more entertaining and simple way as this book did. Hahaha

Actually there’s much more topic and I find it hard to be bored by this book. So far, I can only relate the subject with my life up to life strategy lesson. There’s also tips about educating our children, parenting, and having family. Maybe I’ll discuss it with my sister and her family.

10/10 for young adult!

Industri 4.0 In A Nutshell and My Hopes

It also called as interconnected industries. Easier to maintain machines, improving efficiency with effective strategy based on data, more automation, and in the long run, customer can customize their goods since it was manufactured. Cool, isn’t it? That’s the dream of this new era of industry, which called as Industry 4.0.

Industry_4_0_Industry_in_transition

Industrial era started on mechanization. Some expert called it as Industry 1.0 or first industrial revolution. It began when human used machine powered by steam. Around 18th century, it changed agrarian people into industrial society.

Then at around 19th century, as human start to use electricity, industrial revolution happened again. Machines in the industry were started to be powered by electricity. That improved power efficiency a lot and made people wonder what else could be done to improve production efficiency more and more. During this era, assembly line were implemented and there were mass production everywhere.

In the middle of 20th century, computer were founded. It lead industries to innovate and start to make automatic machines. It reduced man power cost and increase capability to produce very precise product consistently. As consequences, many countries created law to ensure workforce were not wasted.

After World Wide Web boom in the 1990, industrial performer started thinking to use internet in their daily jobs. Is it possible to reduce production cost by observing some data which can’t be acquired before? Can we monitor our production line closer? How if we want to know our customer demand and our supplier capability faster? Those and many other questions were asked based on internet potential.

Since fully automated factory is prohibited in several manufacture areas, to make worker works more discipline, industry supervisor need to monitor the workers closer and tighter. This issue can be solved by implementing some data acquisition method using IoT products.

The result of Internet of Things in industry can’t be underestimated. Infineon stated in their website that their productivity was increased 10% without additional machine and they able to save 1 million EUR by implementing automatic production planning. Seems promising, right?

This Industry 4.0 trend is emerging in whole world. How about Indonesia?

I haven’t done complete analysis of it. Maybe it can be done as my side project. But we can say that right now we are behind another countries. Good for us our current government is very active in implementing electronic system in the bureaucracy and also supporting e-businesses, although currently it’s hard to have sustainable hardware production business. How can we compete with Chinese electronics product which able to sell with half of our production cost? Or against Europe or Korean or Japanese which highly reliable and supported by decades of research? Is it the time to wave white flag for Indonesia to produce electronic hardware product?

Sooner or later, Indonesia will be shifted into this trend of connectivity. And by designing the hardware by ourself, we can make sure we are more secure. We can also do more customization to make the IoT product more compatible. Maybe at some level we will become dependent with another countries to supply our hardware, but not to give up completely in the electronics world.

This is where my hopes arise. I got my dream again after this long time ❤

Jadi Sekarang Kita Berada di Zaman ….

Zaman edan, kata para agamawan dan orang-orang berbudaya ketimuran. Serba terbalik. Yang gila dianggap waras, yang waras dianggap gila. Keburukan menjadi lumrah, kebenaran menjadi langka. Begitu katanya.

Zaman kedamaian, kata para sejarawan. Sejak muncul di dunia, diprediksi Homo sapiens berkonflik melawan spesies-spesies lain yang berpotensi berevolusi menjadi makhluk cerdas pesaing manusia. Lalu muncul konflik-konflik lain antar sesama manusia, entah perebutan kekuasaan, penyebaran gagasan, pencarian sumber daya kehidupan, atau sekadar kesalahpahaman. Setelah Perang Dunia II, barulah skala peperangan menurun dan kini semakin terlokalisasi di tempat-tempat tertentu. Perjanjian antar negara yang terpegang teguh menjadi kunci minimnya adu kekuatan. Kemajuan teknologi telah meningkatkan taraf kesejahteraan hidup secara umum, baik kesehatan maupun kenyamanan hidup. Begitu katanya.

Zaman di ambang kehancuran, kata pemrediksi masa depan. Konon ekonomi kita rapuh dan terancam runtuh. Sumber daya alam semakin tereksploitasi. Bumi semakin tidak layak dihuni. Potensi konflik kemanusiaan semakin menguat. Kapitalisme melebarkan jurang kesenjangan sosial yang sebentar lagi akan runtuh. Sampah sudah sedemikian menggunung dan mengotori lingkungan. Segala bentuk dosa manusia sudah pernah terjadi saat ini, tinggal menunggu hukuman alam. Begitu katanya.

Zaman perkembangan bisnis, kata pengamat ekonomi negara ini. Potensi pasar digital sedang tinggi. Daya beli masyarakat kuat. Orang semakin terkoneksi, jalur logistik semakin singkat dan efisien. Pemasaran semakin mudah, biaya produksi dapat ditekan.

Zaman media sosial. Zaman kebangkitan Islam. Zaman kehancuran Islam. Zaman overload informasi. Zaman perang pemikiran, penggiringan opini. Zaman now. Ya. Karepmu.

Pastinya zaman memang berubah, namanya tergantung dari sudut pandang, apa yang mau dinilai. Jadi, di zaman apa kamu sekarang?
(tiba-tiba muncul jawaban garing dari fans MU,Zaman Ibrahimovic“)

Saya dan Kindle Paperwhite 7th Gen

Tahun 2017 lalu saya berusaha membangkitkan semangat saya dalam membaca buku. Sebenarnya dari kecil saya suka membaca. Awalnya terpaksa karena hiburan yang paling murah bagi saya saat itu adalah membaca buku. Dulu pinjam ke saudara, perpustakaan sekolah, rental buku, dan membaca buku di toko buku besar. Namun saat kuliah saya terlalu sibuk dengan berbagai aktivitas dan ketika sudah ada penghasilan saya malah terlalu sibuk berinternet. Sebenarnya saya masih berusaha merutinkan diri untuk membeli buku walaupun ujung-ujungnya hanya menjadi koleksi. Saya merasa kesal sendiri karena tidak semua buku langsung habis terbaca. Apalagi buku cetak konvensional butuh perawatan agar selalu kering dan tidak menjadi santapan rayap maupun tempat tumbuhnya jamur. Yaa diletakkan di lemari buku yang layak sudah cukup sebenarnya. Kelemahannya hanyalah saya masih nomaden dan sangat pelit untuk membeli lemari. Saya sering kesusahan untuk memilih buku apa yang harus dibawa jika berpindah tempat. Terlebih banyak waktu saya terbuang di jalan, terutama dari Bandung ke Jakarta maupun saat mudik. Jadi saya merasa alasan saya untuk membeli e-book reader sudah cukup.

Manfaat yang sangat terasa:
1. Praktis dibandingkan harus membawa buku cetak. Bayangkan saja, saya sekarang bisa bersepeda ke tempat yang jauh, sesampainya di lokasi saya bisa istirahat sambil membaca buku.
2. Hemat baterai. Sekali fully charged, sekitar 3 minggu masih bisa bertahan. Tergantung setting kecerahan layar dan frekuensi pemakaian.
3. Bisa mengintip buku yang akan dibeli di Amazon dengan mengunduh versi bajakan di libgen.io.
4. Kadang diskon di Amazon ada untuk Kindle edition.
5. Tampilan layar benar-benar mirip buku cetak, tidak langsung silau kalau mendapat paparan cahaya yang terang. E-Ink mantap!
6. Ukuran dan berat sangat pas untuk dibaca di atas meja maupun sambil bersandar santai.

Kelemahan:
1. Paling optimal hanya untuk membaca file *.mobi. PDF dan *.epub perlu dikonversi menggunakan perangkat lunak tambahan di PC/laptop. Saya sendiri menggunakan calibre E-Book Management
2. Fitur search kurang praktis. Oleh karenanya untuk jenis bacaan serius semacam jurnal, paper, atau textbooks, saya sendiri masih lebih prefer membaca di PC/laptop.

Kesan lain:
1. Cukup lambat jika dibandingkan standar gadget masa kini. Bagi saya ada positifnya, kita jadi tidak perlu terburu-buru. Toh niat awal membaca juga sebagai bentuk penenang pikiran.
2. Ada fitur untuk membuat perpustakaan keluarga dan pinjam meminjam buku. Fitur ini belum pernah saya coba.
3. Browser bawaan lambat dan cuma dapat me-load text. Jadi bisa fokus membaca tanpa ganggguan godaan browsing.

Kenapa memilih Kindle Paperwhite 7th Gen dibandingkan e-book reader lain:
1. Diskon buku Amazon store.
2. Development khusus sebagai e-book reader sejak bertahun-tahun silam. Saya percaya waktu pengembangan adalah indikator kualitas.
3. Banyaknya review positif mengenai perangkat ini.
4. Ada yang menjual bekas dengan kondisi bagus.
5. Belum tahu kalau Ajang ternyata dapat membeli yang 8th Gen dengan harga yang sama :'(((

Kesimpulan:
Best Buy 2017 ❤

Tidur

Tidur dapat menjadi musuh. Ketika azzam sedang lemah, bangun tidur semangat lenyap. Apalagi jika diberi asupan internet, pikiran akan langsung tersihir. Berbagai target yang semalam disusun untuk dikerjakan esoknya seketika terhapus.

Ekspektasi tidur adalah istirahat, bangun dengan fisik yang lebih segar sehingga kegiatan hari sebelumnya dapat dilanjutkan dengan baik. Bukan memutus semangat yang tersusun di malam sebelumnya. Bukan pula menambah pegal badan. Cara tidur yang baik adalah hal esensial dalam hidup.

Penentu lain kualitas tidur adalah bagaimana kita beraktivitas begitu kita bangun tidur.

Mampu melakukan salat fajar kata Rasul dapat membuat kita memperoleh hal yang lebih berharga dari dunia seisinya. Salah satu hikmah yang saya pahami adalah dengan melakukan salat fajar, kita mampu menaklukkan nafsu kita ketika bangun tidur. Nafsu untuk melenakan raga dan pikiran untuk terus terlelap. Pikiran dapat dikatakan masih tertidur jika begitu bangun kita langsung melihat sosial media atau melihat informasi-informasi ringan dan dangkal di internet.

Memang kadang salat untuk mengawali hari terasa hambar. Tidak ada curhat sebagaimana salat malam. Hati belum condong untuk memanjatkan harapan. Jiwa-jiwa perfeksionis akan dibisiki setan untuk menunda salat. “Nanti saja, kalau sekarang belum maksimal”, begitu katanya. Dan sebagaimana cerita pagi yang sudah-sudah, penundaan itu berbuah hilangnya kesempatan salat pagi tepat waktu.

Salat autopilot masih lebih bagus daripada tidak salat, bukan? Toh tidak bisa dipungkiri di salat terkhusyuk kita pun kadang autopilot masih muncul. Jadi better to get up and do Fajar salah!

Beberapa motivator mengatakan bahwa passion adalah sesuatu yang membuatmu lupa untuk tidur dan terus bekerja hingga malam. Apakah hal tersebut merupakan hal yang optimal untuk dilakukan? Overglorifying sleep deprivation is a dangerous thing, kata dokter yang saya kenal.

Pak Habibie menyatakan beliau selalu tidur 4 jam per malam dan beliau masih tampak sehat di usia lanjut. Menarik jika kita dapat mengamati perilaku otak beliau. Mungkin beliau mampu melakukan aktivitas-aktivitasnya secara efisien, tidak ngoyo. Atau bisa jadi efisiensi penggunaan stamina beliau didasari rasa cinta yang besar pada keluarga. Tidak ada energi terbuang untuk beban pikiran dan emosi yang sia-sia. Hmm apa saya berkeluarga secepatnya saja ya? Hahaha

Tambahan: kalau memang ingin otak lebih siap ketika salat fajar, mending segera wudu dan baca Al Qur’an. Toh paham maupun engga, baca al-Qur’an masih berpahala.

 

Sok Jantan

Dua kata tersebut spontan diucapkan seorang teman masa SMA setelah saya utarakan rencana bersepeda jarak jauh menjelang tahun baru. Yaa akhirnya gagal sih karena alasan kesehatan dan padatnya jalanan antar kota.

Dia tidak mau menjelaskan alasannya lebih jauh. Mungkin baginya olahraga yang sangat menguras fisik adalah sesuatu yang berlebihan. Saya tidak mau mempermasalahkan pandangan dia, namun dua kata yang terucap itu membawa saya kembali ke ingatan di Batam. Mengenai kondisi pikiran dan mental saya ketika itu. Ketika saya mengayuh sepeda ke Jembatan Barelang ke-6 alih-alih berangkat kerja. Saya mendapatkan kesan mendalam di kesunyian yang saya dapatkan ketika itu.

Yang ingin saya bahas adalah adanya kecenderungan untuk menghabiskan energi ketika saya sedang merasa kacau. Saat sekolah dan kuliah, saya terbiasa berjalan kaki dalam banyak kesempatan. Secara tidak langsung saya merasakan munculnya perasaan yang lebih tenang jika berjalan kaki dilakukan ketika sedang marah atau sedih. Namun hal itu jarang terjadi saat saya kerja. Aktivitas fisik yang memberi jeda kegiatan berfikir hanya dilakukan ketika berangkat atau pulang kerja. Itu juga jika saya menaiki sepeda. Sebenarnya saat bekerja di Batam fisik saya terkuras juga, namun temponya cenderung meletihkan. Bukan malah membuat fresh sebagaimana jalan kaki dari kelas ke kelas ketika kuliah.

Saya ingin menyanggah komentar sok jantan tersebut untuk aktivitas olahraga saya, karena memang saya membutuhkannya. Sayangnya kadang saya sendiri merasa ada benarnya. Ketika ingin mengayuh sejauh-jauhnya, ada kalanya saya hanya ingin kabur dari pikiran-pikiran yang tidak menghibur. Saya ingin tetap mudah tertidur walaupun ada banyak tanggung jawab yang mengganjal.

Jadi kali ini perlu dikurangi tingkat ekstrimnya. Perlu penyaluran tenaga yang lebih masuk akal. Agar olah fisik ini benar-benar menyehatkan, tidak memberikan dampak buruk ke saya sendiri dalam jangka waktu yang lebih panjang. Kalau suatu saat ingin lagi merasakan kelelahan di tengah kegelapan yang pekat, semoga tidak dalam rangka kabur dan tidak membuat orang sekitar menjadi khawatir.

2017 Dalam Kata-Kata

  1. Pengingat kematian
    Ayah saya, Ranu sang keponakan no.2, pak Yudi dosen EL favorit, hingga pak Sigit sebelah rumah kontrakan, masing-masing kematian tersebut meninggalkan pengalaman yang cukup mendalam. Pengingat kematian maksudnya bukan hanya mengingatkan saya untuk mempersiapkan kematian diri, namun juga mengingatkan bahwa saya sangat mungkin akan melihat lebih banyak lagi kematian.
  2. Membaca
    Diawali membaca karya Sir Nicholas Carr, The Shallows, saya diingatkan asyiknya membaca. Hal yang terlupakan sejak saya sibuk berbagai kegiatan saat kuliah dan teracuni internet sejak memiliki penghasilan tetap. Lalu saya mulai membaca buku-buku self-help untuk mengangkat diri dari “kegelapan” hidup. Love Yourself Like Your Life Depends On It merupakan buku pencerahan pertama untuk self-help tahun ini. Lalu membaca beberapa buku penambah wawasan seperti The Lean Startup, The Lean Analytics, dan lainnya. Selain itu tema bacaan yang menarik lain adalah filosofi seperti Meditation karya Marcus Aurelius dan karya Yuval Noah Harari seperti Sapiens dan Homo Deus. Untuk tahun ini saya tidak tertarik membaca novel fiksi.
  3. Membangun kebiasaan baik
    Perlahan mengikis kebiasaan buruk seperti menunda-nunda, mudah terdistraksi, dan ketidakmampuan diri mengontrol pikiran dan kecemasan di malam hari. Perlahan pula meningkatkan kondisi fisik dengan merutinkan diri bersepeda, menghindari kopi, dan mengurangi konsumsi gorengan. Sayang di akhir tahun badan malah tidak sehat sehingga tidak jadi bersepeda ke Jakarta di malam tahun baru ini. Salah satu kebiasaan yang sedang dipupuk adalah mengendalikan dan mengarahkan pikiran agar selalu berpikir jernih.

    Habit & Discipline >>>> Motivation

  4. Menyusun rencana hidup dengan sungguh-sungguh
    A bit late actually. Tapi ya sudahlah. Hahaha. Ini sedang berjalan, sudah dimulai. Yang jelas perencanaannya tidak bisa dilakukan hanya semalam, karena biasanya hanya semangat impulsif yang muncul. Lebih baik dipikirkan tiap malam dan diperbarui berkala. Hopefully, no more slacking off and lost in mind!
  5. Religiusitas
    Hmm. Tidak banyak yang dapat diutarakan. Tidak banyak perubahan dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Ini juga termasuk urusan political view.
  6. Pertemanan
    Alhamdulillah masih terjalin hubungan yang baik dengan cukup banyak teman EL, BIUS, ALSTE, dan teman lama lainnya. Untuk teman baru sayangnya tidak terlalu banyak yang terjalin. Haha
  7. Percintaan dan rencana pernikahan
    Nihil. Kosong. Hahaha. Seriously, I’m still closing myself for this. Saya tutup hati rapat-rapat. Saya tutup mulut juga kalau ada handai taulan yang bertanya. Padahal setidaknya ada dua orang teman akan saya support rencana nikahnya tahun depan. Penyebabnya hanya karena belum muncul visi untuk menikah dalam waktu dekat. Jangan debat saya untuk urusan ini! Terima kasih atas tawaran-tawaran untuk mengenalkan saya ke kenalan kalian. Doakan saja tidak muncul visi untuk hidup membujang. Memang sih semakin ke sini hidup sendirian semakin tidak terasa begitu buruk :p

Teman Palsu

Fake friend(s).

Saya kurang suka dengan istilah itu. Bagi saya teman ya teman. Perkara kedekatan hanya dalam hal tertentu atau dalam kondisi tertentu, bagi saya itu normal. Toh manusia itu makhluk politis. Mungkin ekspektasi tujuan pertemanan yang terlalu tinggi hingga ketika ada sebuah ketidaksesuaian ekspektasi, susah sekali rasanya menganggap dia teman. Padahal ya sebenarnya memang hubungan kita bagi dia dari awal bertujuan agar dia untung. Terasa dicurangi? Yaa butuh waktu untuk membiasakan itu. Jangan sampai reaksi kita berlebihan, yang akhirnya merugikan kita sendiri

Delivering Happiness: A Path of Profits, Passion, and Purpose

My advice is to stop trying to “network” in the traditional business sense, and instead just try to build up the number and depth of your friendships, where the friendship itself is its own reward. The more diverse your set of friendships are, the more likely you’ll derive both personal and business benefits from your friendship later down the road. You won’t know exactly what those benefits will be, but if your friendships are genuine, those benefits will magically appear 2-3 years later down the road.

Tony HsiehDelivering Happiness: A Path to Profits, Passion, and Purpose

Awalnya saya membaca buku ini dari IG story-nya Afif. Saya tertarik mengenai kisah entrepreneur yang resign dari tempat kerjanya karena bosan. Ternyata buku ini menceritakan lebih dari itu. Mulai dari masa kecil Hsieh hingga pandangan-pandangan hidupnya selama menjadi pemimpin Zappos. Banyak pelajaran yang dapat diambil, di manapun posisi Anda dalam organisasi manusia!

Buramnya Visi

Bukan hal baru sih ini. Tapi dulu badan masih dikuasai hormon-hormon kepemudaan yang selalu membumbui mimpi dengan hal-hal impulsif. Beberapa hal sudah tercoba sejak beberapa tahun silam, dengan tujuan mendapatkan sesuatu yang bisa saya lakukan secara passionate dan konsisten.

Umur bertambah, begitu pula jumlah buku yang saya baca, walaupun di sisi lain hormon-hormon kepemudaan melemah. Saya tiba di kesimpulan bahwa disiplin dan membentuk kebiasaan jauh lebih berharga daripada passionPassion dapat diperoleh dari ekspertise kita. Umumnya sangat menyenangkan ketika mengerjakan sesuatu yang sudah kita pahami dan kita secara betahap dapat meng-improve keahlian kita. Yang penting adalah konsistensi untuk mengerjakannya, baik saat ada motivasi maupun tidak. Dan di situlah kedisiplinan berperan penting. Terlebih kesempatan dapat muncul kapan saja, tidak peduli bagaimana kondisi motivasi kita.

Namun hal yang masih belum saya temukan adalah visi hidup. Saat ini saya masih berstatus sebagai peneliti. Status ini adalah salah satu impian masa kecil saya. Saya dapat mendalami suatu hal dan mengaplikasikannya. Karena masih di bawah arahan dosen, saya masih belum memiliki visi saya sendiri. Terlebih bidang keahlian saya (electronic testing) jika didalami rasanya belum ada manfaat yang maksimal untuk industri dalam negeri. Terbersit impian untuk menjadi seorang electronic reliability expert. Keahlian yang langka di industri elektronika, khususnya di negeri ini. Sayangnya sejujurnya hingga saat ini impian itu masih belum benar-benar terbayangkan jelas. Ada gap besar antara pemahaman saya saat ini dengan ekspektasi impian itu. Ada ketidaktahuan yang harus dicari, tanpa kepastian apakah saya dapat menemukannya.

Bukankah itulah inti riset? Mencari yang belum pasti ada dan membuktikan pendapat-pendapat saya? Rasanya ada sebuah ketidaknyamanan besar untuk mencapai hal itu. Bisa jadi saya hanya khawatir ini merupakan sebuah langkah yang bodoh. Apa pun alasannya, saya belum mau untuk menjadikan impian itu menjadi salah satu visi hidup saya. Mungkin ini sebabnya saya hanya sekenanya mempersiapkan diri untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Tapi mau sampai kapan menjadi setengah-setengah seperti ini?

Di sisi lain, saya ingin memiliki perusahaan sendiri, yang kalau bisa lokasinya di dekat tempat tinggal ibu saya. Ya bisa saja dengan impian menjadi seorang electronic reliability expert saya dapat mendirikan konsultan industri. Mendirikan konsultan seperti itu jelas tidak dapat dimulai saat ini, saya hanya dapat memupuk skill set dan wawasan sebagai seseorang yang mendalami elektronika. Sangat mungkin sebenarnya saya lagi-lagi hanya ingin menunda mewujudkan impian punya perusahaan sendiri.

Jika ingin mendirikan perusahaan dalam waktu dekat, yang cukup memungkinkan adalah mendirikannya di bidang sistem informasi, khususnya IoT di industri. Saya memiliki beberapa pengalaman teknis untuk hal ini. Ada beberapa milestone yang sudah cukup terbayang juga. Dari sisi finansial dan ketidakpastian sebenarnya resikonya lebih besar dibandingkan menjadi seorang electronic reliability expert. Jika gagal di jalan menuju electronic reliability expert, saya rasa masih sangat mungkin untuk mencari pendapatan di jalan lain. Namun saya akan kehilangan beberapa tahun. Sementara jika langsung terjun ke aplikasi IoT industri ini, saya rasa beberapa tahun ke depan akan fokus belajar dengan intensitas stress yang tinggi.

Hmm.. Mungkin visi saya sudah mulai terbentuk, namun belum bisa memilih. Atau mungkin memang tidak seharusnya saya memilih saat ini. Mungkin perlu dicoba keduanya semampu saya. Semoga di 2018 saya dapat menentukannya.